Zlatan Ibrahimovic
adalah sosok pemain yang berbakat, kontroversial dan kadang juga sulit
dimengerti. Tak bisa dibantah bahwa Zlatan adalah salah satu pemain
terbaik dalam generasinya.
Zlatan sudah mencetak buku biografinya yang berjudul I Am Zlatan Ibrahimovic. Banyak sekali pemikiran menarik, gelap, dan kadang brutal yang dituangkan Zlatan dalam buku itu.
Berikut adalah petikan pendapat Zlatan mengenai dua sosok pelatih hebat yang pernah menanganinya; Jose Mourinho dan Josep Guardiola.
Jika anda adalah penggemar Guardiola, kemungkinan besar anda akan sakit
hati membaca penilaian Zlatan ini. Petikan buku Zlatan ini dimuat di The Daily Mail.
Jose Mourinho

Jose Mourinho adalah bintang besar dan dia menjadi manajer saya
di Inter. Dia sosok yang baik. Ketika pertama dia bertemu pasangan saya
Helena, dia berbisik kepada Helena, 'Helena, sekarang kamu cuma punya satu misi: beri makan Zlatan, beri dia cukup tidur dan buat dia selalu bahagia.'
Orang itu berkata sesukanya dan saya menyukainya. Dia adalah pemimpin
dari pasukannya. Tapi dia juga peduli. Dia selalu mengirim pesan singkat
kepada saya ketika di Inter, bertanya keadaan saya. Dia adalah
kebalikan dari Pep Guardiola.
Jika Mourinho menerangi ruangan, maka Guardiola yang akan menutup tirai
dan menjadikannya gelap. Saya rasa Guardiola berusaha menjadi pasangan
sempurna bagi Mourinho.
Mourinho adalah orang yang bisa membuat saya rela mengorbankan nyawa saya.
Pada 2008, saya diberitahu bahwa manajer baru saya di Inter, Mourinho, akan menelepon saya. Saya lalu berpikir: 'Memangnya apa yang terjadi?'
Ternyata dia cuma mau mengatakan: 'Akan menyenangkan karena kita akan bekerja bersama, saya sudah tak sabar bertemu denganmu'.
Tak ada hal besar, tapi dia mengatakannya dalam Bahasa Italia. Saya
sungguh tak mengerti. Mourinho belum pernah melatih tim Italia tapi dia
sudah bisa bicara dalam Bahasa Italia lebih bagus dari saya. Dia cuma
butuh waktu tiga minggu untuk fasih berbahasa Italia. Saya akhirnya tak
bisa mengikuti perkembangannya. Kami lalu bicara dalam Bahasa Inggris
dan saat itu saya mulai mengerti bahwa orang ini ternyata peduli. Saya
mendapatkan pesan pendek setelah membela Swedia melawan Spanyol.
'Kamu bermain bagus', tulisnya. Lalu dia memberi saya beberapa
nasehat dan saya sampai berhenti dari latihan yang sedang saya lakukan.
Saya belum pernah mendapatkannya sebelumnya. Sebuah pesan singkat dari
pelatih! Saya bermain bagi timnas Swedia yang tak ada hubungannya sama
sekali dengan Mourinho. Tetap saja, dia ingin terlibat. Saya merasa
dihargai.
Tentu saya tahu dia mengirim pesan itu dengan sebuah tujuan. Dia
menginginkan kesetiaan saya, tapi saya langsung menyukainya. Dia bekerja
dua kali lebih keras dari yang lain. Dia hidup dan bernapas untuk
sepakbola 24/7. Saya sebelumnya belum pernah bertemu dengan manajer yang
pengetahuannya mengenai calon lawan begitu menyeluruh. Mourinho tahu
semuanya, bahkan sampai ke ukuran sepatu kiper ketiga lawan.
Sebelum bertemu dia, saya sudah tahu bahwa Mourinho adalah orang yang
elegan dan percaya diri, tetapi saya tetap dibuat terkejut. Fisik
Mourinho terlihat kecil ketika ada di samping para pemain, tapi saya
bisa segera merasakannya; ada semacam aura di sekitar Mourinho.
Dia menyuruh semua orang berbaris, dia langsung mendekati para pemain
yang sebelumnya merasa tak tersentuh di klub. Dia berdiri di depan
mereka, tingginya hanya sebatas pundak para pemain itu. Mourinho tidak
berusaha menjilat para pemain itu dan langsung mengatakan maksudnya. 'Mulai sekarang, kalian semua akan melakukannya seperti ini.'
Bisakah anda bayangkan?! Semua orang lalu mendengarkannya. Mereka tak
mempertanyakan apa maksud ucapan Mourinho. Tapi mereka diam bukan karena
takut. Mourinho bukan Fabio Capello yang merupakan manajer setan.
Mourinho menciptakan ikatan personal dengan semua pemain melalui pesan
singkat sera pengetahuannya tentang istri dan anak-anak kami. Dia juga
tak pernah berteriak.
Dia membangun motivasi kami menjelang pertandingan. Rasanya seperti
menjalani teater, sebuah permainan psikologi. Dia bisa menunjukkan video
saat kami bermain buruk dan mengatakan: 'Mengenaskan! Payah! Para pemain ini tak mungkin kalian. Mereka pasti saudara kalian atau sisi lemah kalian.' Kami hanya mengangguk saja karena malu.
'Saya tak ingin melihat kalian bermain seperti itu lagi. Pergi ke lapangan seperti singa-singa lapar.'
'Dalam pertarungan pertama kalian akan seperti ini...' dia memukulkan tinjunya ke telapak tangan satunya. 'Dan dalam pertarungan kedua...'
dia menendang papan taktik hingga terbang melintasi ruangan. Adrenalin
kami langsung bekerja dan kami keluar ke lapangan seperti binatang buas
yang gila.Saya semakin tahu orang ini selalu memberikan segalanya untuk
tim, jadi saya ingin memberikan segalanya untuk dia. Semua pemain rela
membunuh untuk Mourinho.
Hanya ada satu hal yang mengganggu saya: tak peduli apa pun yang saya lakukan, tak pernah ada sedikit pun senyum dari wajahnya.
Saya melakukan banyak hal-hal hebat, tapi wajah Mourinho tetap saja seperti akhir pekan kelabu. Suatu ketika kami melawan Bologna
dan saya mencetak gol yang benar-benar gila. Gol itu kemudian terpilih
menjadi gol terbaik. Mourinho hanya berdiri saja dengan wajah membatu.
What the hell? Apa yang salah dengan orang ini? Jika dia tidak
bereaksi terhadap hal-hal hebat seperti itu, apa yang bisa membuatnya
berubah? Apa pun caranya, saya bertekad untuk membuat orang itu gembira.
Akhirnya hal itu terwujud tapi hanya terjadi ketika kami sudah
memenangkan gelar Serie A dan saya menjadi top skorer.
Mourinho, orang dengan wajah batu, orang yang tak pernah peduli,
akhirnya terbangun. Dia seperti orang gila. Dia bersorak seperti anak
sekolah, meloncat-loncat dan saya tersenyum. 'Jadi saya bisa membuatmu tersenyum, akhirnya. tapi hal itu butuh perjuangan berat.'
Josep Guardiola

Setelah kekalahan Barca dari Inter di semifinal Liga Champions, Josep Guardiola memandang saya seolah semua itu terjadi karena kesalahan saya. Saya berpikir: 'cukup sudah. Saya bermain untuk yang terakhir kalinya.'
Setelah pertandingan itu, saya merasa tidak diinginkan lagi di Barca.
Saya merasa seperti sampah ketika duduk di ruang ganti. Guardiola
melirik saya seolah saya adalah sebuah gangguan, seperti alien. Situasi
itu benar-benar gila.
Guardiola adalah tembok bata. Saya tak melihat tanda-tanda kehidupan
darinya, dan setiap saat saya berharap bisa keluar dari klub. Saya tak
lagi menjadi bagian mereka. Ketika kami bertanding ke markas Villarreal,
Guardiola memberi saya waktu bermain selama lima menit. Saya sangat
sedih, bukan karena saya dicadangkan. Saya bisa menerima jika pelatih
mencadangkan saya asal sang pelatih cukup jantan untuk mengatakan: 'Kamu tak cukup bagus Zlatan. kamu tak pantas masuk ke starting line-up.'
Guardiola tidak mengatakan apa pun, tidak sedikit pun, dan saya sudah
muak. Saya bisa merasakannya di sekujur tubuh saya, dan jika saya jadi
Guardiola, saya akan takut. Bukan karena saya sedikit terampil dengan
tinju saya! Saya sudah melakukan semua hal buruk, tetapi saya jarang
terlibat perkelahian. Baiklah, mungkin saya beberapa kali menghajar
beberapa orang. Ketika saya marah dan jadi kalap, anda tak akan mau
berada di dekat saya.
Saya masuk ke ruang ganti setelah pertandingan dan saya tidak
merencanakan serangan apa pun. Tapi saya juga tidak gembira. Saat itu
musuh saya berdiri di sana, menggaruk-garuk kepalanya.
Yaya Toure juga di sana, juga ada beberapa pemain lain. Ada
sebuah kotak logam tempat kami menaruh jersey setelah pertandingan; saya
pandangi kotak itu. Lalu saya menendangnya, kotak itu terbang sekitar
tiga meter tapi kisruh itu belum selesai. Malah sebenarnya baru saja
dimulai. Saya berteriak kepada Guardiola: 'Kamu tak punya nyali!' Lalu saya menambahkan yang lebih buruk: 'kamu seperti kencing di celana ketika menghadapi Mourinho. Kamu bisa pergi ke neraka!'
Saya benar-benar kehilangan kendali. Orang mungkin mengira Guardiola
akan berkata sesuatu untuk membalas, tapi dia adalah pengecut payah. Dia
cuma mengambil kotak logam itu seperti petugas kebersihan lalu pergi.
Dia tak pernah menyinggung kejadian itu lagi, tidak satu kata pun.
Yang ada hanya diam dan permainan pikiran dan saya sadar bahwa saya
sudah berusia 28 tahun. Saya sudah mencetak 22 gol dan menciptakan 15
assist di Barca tetapi masih diperlakukan seperti tidak pernah ada.
Apakah saya harus duduk saja dan menerimanya? Apakah saya harus terus
mencoba beradaptasi? No way!
Ya, saya memang sudah mencoba beradaptasi. Ketika tiba di Barcelona,
mereka mengatakan saya tak boleh naik jet pribadi dan harus naik
penerbangan komersial. 'Di Barcelona kami semua berusaha untuk tetap rendah hati. Kami tidak seperti Real Madrid. Kami melakukan perjalanan dengan pesawat biasa.' mereka memberi penjelasan dan itu terdengar masuk akal.
Lalu ada beberapa hal lain. 'Dengar, kita tidak akan datang ke tempat latihan dengan mengendarai Ferrari atau Porsche,' ucap Guardiola. Saya mengangguk saja. Sebenarnya saya ingin berkata: 'Apa urusanmu dengan mobil yang kukendarai?' Namun pada saat itu saya sibuk berpikir pesan apa yang coba disampaikan Guardiola.
Saya memang menyukai mobil. Mobil adalah hasrat saya dan akhirnya saya
bisa mengerti makna dari kata-kata Guardiola tentang mobil itu kepada
saya: 'Jangan berpikir kamu adalah sosok spesial!'
Saya mulai merasa ke Barcelona seperti kembali ke Ajax, rasanya seperti kembali ke sekolah. Tak ada satu pun pemain yang berkelakuan seperti superstar, dan itu aneh. Messi, Xavi, Iniesta,
dan semuanya... mereka semua seperti anak sekolah. Para pemain terbaik
dunia berdiri di sana dengan kepala tertunduk. Saya tidak bisa mengerti
sedikit pun. Semua itu konyol.
Semua orang melakukan apa saja yang diperintahkan kepada mereka. Saya
tidak cocok di sana, tidak sedikit pun. Saya memaksa diri untuk sekadar
memanfaatkan kesempatan di sana, dan tidak membuat anggapan buruk mereka
terhadap saya jadi nyata. Jadi saya mulai beradaptasi dan berusaha
menyatu. Saya menjadi terlalu 'manis' dan itu gila.
Saya mengatakan apa yang mereka ingin saya katakan. Semuanya kacau. Saya
mengendarai Audi yang merupakan sponsor Barca dan berdiri saja di sana
lalu mengangguk. Saya bahkan nyaris tak pernah berteriak kepada rekan
setim saya. Sangat membosankan. Zlatan bukan lagi Zlatan.
Lalu Messi mulai banyak bicara. Messi itu hebat. dia benar-benar amazing. Tapi dia juga mengatakan kepada Guardiola: 'Saya tak mau bermain di sayap kanan lagi. Saya mau bermain lebih ke tengah.' Saat itu saya adalah penyerang Barca. Guardiola sama sekali tak peduli kepada saya.
Guardiola lalu mengorbankan saya, itulah kenyataannya. Salah satu teman saya mengatakan: 'Zlatan, Barca seperti membeli Ferrari tapi mengendarainya seperti Fiat'. Saya lalu berpikir, 'Ya, itu cara yang tepat untuk mengungkapkannya.' Guardiola mengubah saya menjadi pemain yang lebih simpel dan lebih buruk. Hal itu adalah kerugian bagi seluruh tim.
Guardiola bahkan tidak mengucapkan selamat pagi kepada saya. Tidak
sepatah kata pun. Dia menghindari kontak mata dengan saya. Jika saya
masuk ke sebuah ruangan, dia akan pergi. 'Apa yang terjadi? Apakah saya berbuat salah? apa penampilan saya terlihat salah? Apa cara bicara saya aneh?' semua itu berkecamuk di dalam kepala saya. Saya tak bisa tidur.
Saya terus memikirkannya, bukan karena saya butuh cinta Guardiola. Dia
boleh membenci saya, saya tak akan keberatan. Kebencian dan dendam hanya
akan memacu saya. Saat itu saya kehilangan fokus.
Dia berpikir bisa mengubah saya. Di Barca-nya, semua orang harus jadi
seperti Xavi, Iniesta atau Messi. Tak ada yang salah dengan semua pemain
itu, seperti yang pernah saya katakan, tak ada yang salah sedikit pun.
Rasanya menyenangkan bisa bergabung dalam satu tim dengan mereka.
Pemain-pemain bagus membuat saya bersemangat.
Namun saya juga datang dengan seluruh karakter saya dan di Barca
karakter saya tidak memiliki tempat. Tidak di dunia kecil Guardiola.
Ketika saya tahu saya akan duduk di bench dalam pertandingan melawan Almeria, saya jadi ingat kata-kata Guardiola: 'Di Barcelona kita tidak akan datang ke tempat latihan dengan mengendarai Ferrari atau Porsche.'
Omong kosong apa lagi itu? Saya akan membeli mobil yang saya suka, biar
pun saya jadi terlihat seperti idiot. Saya lalu masuk ke Ferrari Enzo,
menginjak gas dan memarkir mobil itu di depan pintu masuk markas
latihan.
Saya memutuskan untuk bertarung demi diri saya, dan anda harus tahu
bahwa saya sudah paham caranya bermain dalam pertarungan semacam itu.
Saya sudah menjadi petarung sebelumnya, percayalah. Saya tak boleh
melakukan persiapan dengan buruk jadi saya bicara dengan agen saya. Kami
selalu merencanakan trik kami bersama, baik itu trik cerdas atau trik
kotor. Saya juga menghubungi teman-teman saya.
Saya hanya ingin melihat segalanya dari perspektif yang berbeda, dan
demi Tuhan saya mendapat semua perspektif yang saya butuhkan.
Anak-anak Rosengard (kampung halaman Zlatan) ingin datang ke Barcelona
dan menghancurkan kantor klub. Mereka memang teman-teman yang baik.
Namun tindakan itu sepertinya bukan strategi yang tepat jika melihat
situasi yang terjadi.
Saat malam, ketika saya terbaring tapi terjaga, atau saat berlatih dan
melihat Guardiola, sisi gelap saya terbangun. Kemarahan itu masuk begitu
saja ke kepala saya.
Karena masalah Guardiola itu, pihak klub terpaksa mengalami bencana
transfer untuk menjual saya, dan itu gila. Saya mencetak 22 gol dan 15
assist dalam semusim di Barcelona. Tapi nilai saya turun 70 persen.
Salah siapa itu coba? Guardiola! Si pendiam kecil yang terlalu banyak
berpikir. Dia mencoba merusak saya.